Lynx menoleh, tersenyum kecil untuk menenangkannya. "Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja."

"Tapi…" Rira menggigit bibirnya, matanya berkaca-kaca.

Narendra yang duduk di dekat mereka, masih terbalut perban, tertawa kecil. "Rira, percaya saja pada Lynx. Dia mungkin terlihat kalem, tapi dia lebih kuat dari siapa pun di sini. Aku sudah melihatnya."

Kanha, yang berdiri tak jauh, menambahkan dengan semangat. "Iya, Kak Lynx itu luar biasa! Bahkan lawan seperti orang misterius itu nggak bakal menang lawan Kak Lynx!"

Rira tersenyum kecil meskipun masih khawatir. Ia menatap Lynx lagi. "Aku hanya ingin kau tahu… apapun yang terjadi, kami disini mendukungmu."

Lynx mengangguk. "Terima kasih, Rira. Aku akan melakukan yang terbaik."

Ketika Lynx berjalan menjauh, pikirannya masih penuh dengan tanda tanya mengenai orang misterius tersebut, Lynx merasa tidak asing tetapi dia tidak mampu mengingat dimana pernah melihat orang tersebut. Namun, ia tahu bahwa ancaman tidak hanya berasal dari arena, tetapi juga dari rencana yang mungkin sudah disusun oleh musuh-musuh tersembunyi seperti Banu.

Merasa harus mempersatukan suku Raksa, Lynx tidak bisa berdiam diri melihat Arkha terluka, dia datang ke tempat perawatan untuk melihat kondisi Arkha bersama Narendra.

"Apa maumu kesini?" Tanya seorang pria ketika melihat Lynx mendekat.

"Aku hanya ingin menjenguk Arkha." Jawab Lynx.

Pria lainnya menunjuk Lynx dengan marah,"Pergi sana! Arkha tidak perlu di jenguk oleh kalian."

"Apa yang terjadi. Kenapa kalian sangat ribut." Tiba-tiba sebuah suara membentak dari belakang pria itu.

"Banu, para pria bodoh ini ingin mencari gara-gara disini." Salah seorang pria menjelaskan kepada Banu sambil menunjuk ke arah Lynx dan Narendra.

"Beraninya kalian kesini. Pasti kalian ingin menertawakan kekalahan Arkha, kamu harus tahu diri. Arkha saja kalah apalagi orang selemah kalian." Bentak Banu sambil tertawa diikuti teman-temannya.

Narendra yang tidak sabar menghadapi Banu langsung emosi. "Jaga bicaramu! Kami kesini karena menghargai kalian. Kami ingin menjenguk Arkha karena khawatir dengan kondisinya."

"Tidak perlu! Arkha tidak perlu belas kasihan kalian. Pergi sekarang!" Teriak Banu marah.

Arkha yang sudah sadar dan mendapatkan perawatan, mendengar suara keributan. Dia bertanya kepada orang disampingnya mengenai apa yang terjadi.

"Lynx dan temannya datang kesini ingin bertemu denganmu. Banu melarangnya karena mereka pasti bermaksud jahat." jawabnya.

"Suruh mereka masuk. Aku ingin tahu apa maksud kedatangan mereka." Banu memberi perintah yang diikuti langsung oleh pria itu.

"Banu, biarkan mereka masuk. Arkha ingin menemuinya." Kata pria itu kepada Banu.

"Huh, untuk apa Arkha menemuinya. Hanya buang-buang waktu saja." Balas Banu dengan marah. Namun dia segera beranjak pergi karena tidak ingin melawan perintah Arkha.

"Bagaimana kondisimu Arkha?" Tanya Lynx setelah masuk kedalam ruangan tempat peristirahatan sementara dimana Arkha di rawat.

"Tidak perlu basa-basi. Katakan apa mau kalian kesini?" balas Arkha.

"Apa seperti ini sikapmu terhadap tamu yang menemuimu?" Bentak Narendra.

Lynx memberi kode kepada Narendra untuk menahan diri. Sementara itu Lynx langsung mengatakan tujuan sesungguhnya mengikuti pertandingan. "Kami ingin melawan suku Monrest. Aku mengikuti pertandingan ini karena ingin menyatukan kalian. Tidak seharusnya kalian hidup seperti sekarang ini. Tanpa persatuan kalian tidak akan pernah bisa hidup dengan bebas dan selalu hidup dalam bayang-bayang ketakutan."

Arkha terkejut mendengarnya. Dia sangat membenci suku Monrest, tapi dia juga tidak bodoh dengan langsung mempercayai kata-kata Lynx. "Apa kamu pikir semudah itu melawan mereka? Suku kami menjadi hancur seperti sekarang karena ulah mereka. Kekuatan mereka tidak bisa kita lawan, belum lagi makhluk-makhluk peliharaan mereka."

Lynx menjawab dengan sorot mata tajam dengan penuh keyakinan, "Kita pasti bisa. Kami sudah pernah bertarung dan sudah membunuh beberapa makhluk mutasi milik mereka."

Arkha terkejut mendengarnya. Narendra lalu menambahkan cerita tentang suku Uksa mereka yang berhasil mengalahkan makhluk mutasi dengan bantuan arahan dari Lynx, serta bagaimana mereka membuat takut suku Monrest. Lynx juga menceritakan tentang pertahanan yang sudah dibangun oleh suku Sinto di pulau bagian barat.

Arka yang terbaring di tempat perawatan terlihat bersemangat mendengarnya, karena selama ini tidak ada suku lain yang mampu mengalahkan makhluk mutasi terutama peliharaan suku Monrest, namun dia tetap berhati-hati. "Kamu harus buktikan terlebih dahulu kemampuanmu dengan mengalahkan orang misterius itu. Setelah itu akan kita bicarakan lagi mengenai hal ini."

"Lihat saja, kalian akan melihat kehebatan Lynx." Jawab Narendra dengan bangga.

"Narendra… hati-hatilah… lawan kita kali ini berbeda." Kata Arkha saat Lynx dan Narendra akan pergi.

Narendra mengangguk, menatap Lynx yang sudah melangkah pergi terlebih dahulu. "Kami tahu, Arkha. Tapi kami punya Lynx. Aku yakin dia bisa menang."

Sementara itu, Banu tampak berbicara dengan salah satu rekan-rekannya, merencanakan sesuatu dengan licik. "Jika dia menang," gumam Banu, matanya penuh kebencian, "kita akan pastikan dia tidak keluar dari sini hidup-hidup."

Keesokan paginya, di sudut penonton, terlihat banyak orang-orang suku Raksa telah berkumpul untuk menyaksikan peristiwa bersejarah, yang menentukan masa depan suku mereka. Masih tanda tanya di hati mereka mengenai sosok orang misterius, siapakah yang telah membawanya dan perwakilan dari pihak mana. Panitia sendiri saat itu mengatakan bahwa orang misterius dibawa oleh salah satu suku Raksa yang cukup terkenal dan mendaftarkan atas perwakilan dirinya. Namun sejak pertandingan pertama, mereka tidak melihat lagi orang tersebut.

Rira menggenggam erat tangannya, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam. "Jika Arkha saja dibuat seperti itu... bagaimana Lynx akan menghadapi dia nanti?" bisiknya kepada Narendra.

Narendra, yang duduk di dekatnya dengan luka-lukanya yang masih belum sepenuhnya sembuh, menjawab dengan suara rendah. "Lynx bukan seperti Arkha, atau aku, atau bahkan Banu. Dia... berbeda. Kita harus percaya padanya. Selain itu Lynx harus bisa meyakinkan seluruh suku Raksa dengan kemampuannya."

Kanha, yang duduk di antara mereka, mencoba menenangkan. "Tenang saja, Kak Lynx itu jagoan. Dia bisa menang melawan siapa saja, bahkan orang aneh itu."

Namun, meskipun Kanha berusaha menyemangati, suasana tetap dipenuhi ketegangan. Pertarungan berikutnya akan menentukan apakah Lynx benar-benar mampu menghadapi ancaman yang semakin nyata di depan matanya.

Saat semua orang mulai beristirahat, Lynx duduk sedikit terpisah dari yang lain, memikirkan perasaan bahaya yang selalu menghantui dirinya sejak pertandingan dimulai. Dia merasa tidak asing dengan perasaan ini, serta mengenal sosok orang misterius tapi tidak bisa mengingatnya. Pikiran tentang bagaimana kekuatan lawannya terasa tidak wajar membuatnya yakin bahwa lawannya bukanlah orang dari suku-suku yang dikenalnya, tetapi Lynx yakin dengan tekadnya untuk melindungi kelompok ini, dan membangun kepercayaan diantara suku Raksa.

Arena hening ketika Lynx dan orang misterius saling berhadapan di tengah. Mata penonton terpaku pada dua sosok itu—Lynx dengan posturnya yang tenang dan orang misterius dengan aura yang memancarkan ketegangan.

"Jangan lengah, Lynx!" seru Kanha dari pinggir arena, melompat-lompat dengan semangat.

Rira memandang dengan cemas. "Dia terlihat berbeda… lebih serius daripada saat melawan Arkha."

Raka mengangguk pelan, matanya tak lepas dari orang misterius itu. "Orang itu sepertinya sedang mengukur Lynx. Dia tahu lawannya kali ini tidak seperti yang lain."

Lynx memperhatikan setiap gerakan orang misterius itu. Ia berdiri santai, seolah tidak ada tekanan sama sekali. "Kau diam saja?" tanyanya dengan nada santai. "Atau kau hanya menunggu aku menyerang duluan?"

Orang misterius itu tidak menjawab, hanya melangkah maju perlahan. Aura di sekelilingnya semakin berat, dan penonton mulai berbisik-bisik, merasakan ketegangan yang meningkat.

"Dia berbahaya…" gumam Narendra, berdiri dengan tangan terkepal.

Tanpa aba-aba, orang misterius itu melesat maju. Gerakannya cepat, hampir tak terlihat, dan pukulannya menghantam ke arah Lynx dengan kekuatan yang cukup untuk menghancurkan batu.

Para penonton menahan napas karena tegang menyaksikan pertandingan tersebut. Orang misterius yang selalu diam menunggu, kini maju menyerang.

Namun, Lynx menggeser tubuhnya sedikit ke samping, menghindari serangan itu dengan mudah. Pukulan itu meleset, menciptakan lubang kecil di tanah.

Penonton terdiam sejenak sebelum berseru kagum.

"Cepat sekali!" salah satu penonton berseru.

"Dia bahkan tidak terkena serangan secepat itu!" yang lain menambahkan.

Orang misterius tidak memberi Lynx waktu untuk berbicara. Ia terus menyerang, mengayunkan tinju dan tendangan bertubi-tubi dengan kecepatan tinggi. Tetapi setiap serangan itu hanya menghantam udara. Lynx menghindar dengan gerakan minimal, tetap tenang seolah serangan itu tidak berarti apa-apa.

"Ini seperti menonton tarian," kata Arkha dengan suara berat, kagum sekaligus tertekan melihat kecepatan Lynx.

Lynx akhirnya bergerak. Ketika pukulan berikutnya datang, ia menangkap pergelangan tangan lawannya, lalu dengan gerakan cepat, ia memutar tubuhnya dan mendorong orang itu ke belakang. Orang misterius itu terhuyung beberapa langkah, tetapi dengan cepat kembali berdiri.

"Jadi kau bisa melakukan ini sepanjang hari?" tanya Lynx sambil menyeringai kecil. "Atau kau punya sesuatu yang lebih menarik?"

Orang misterius mengerutkan alis, tidak menjawab. Ia menyerang lagi, kali ini dengan lebih banyak variasi, mencoba mengelabui Lynx dengan gerakan cepat dan tak terduga.

Lynx menghindar, tetapi kali ini ia menambah sedikit serangan balasan. Sambil menangkis pukulan, ia memberikan tendangan ke arah perut lawannya, membuat pria itu terlempar mundur karena kerasnya tendangan yang dia terima.

"Akhirnya kau menyerang," gumam orang misterius itu, suaranya rendah. "Tapi itu tidak cukup."

Serangan terus berlangsung, kedua petarung bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti mata biasa. Lynx tetap menjaga ketenangan, sesekali menyerang dengan pukulan ringan atau tendangan cepat yang membuat lawannya kehilangan keseimbangan.

"Mereka sangat cepat. Apakah selama ini ada orang suku kita yang secepat itu?" Kata salah satu penonton.

Arkha yang berada didekatnya mendengar dan menyadari,"Mereka berdua jauh lebih kuat dari yang kubayangkan." Batinnya.

Sementara itu Banu yang menyaksikan merasa marah dan menggenggam erat tombaknya dengan emosi,"Awas kamu Lynx, tidak akan aku biarkan kamu menang. Rira harus menjadi milikku."

Namun, meskipun terlihat santai, Lynx mengamati sesuatu. Ia bisa merasakan lawannya memiliki kekuatan cadangan yang belum dikeluarkan.


